Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Berita Tuban - Petugas kepolisian dari jajaran Sat Reskrim Polres Tuban masih melakukan penyelidikan terkait dengan adanya pelajar yang tewas yang diduga akibat kelelahan setelah mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS).

Guna mengungkap kasus tewasnya Dewi Retno Wulandari (15), pelajar asal Desa Cangkring, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban itu pihak kepolisian masih akan melakukan pemeriksaan sejumlah saksi. Petugas akan melakukan pemeriksaan sejumlah saksi terkait apakah ada kekerasan dalam kegiatan MOS.

"Kita masih melakukan penyelidikan atas kejadian itu. Kita akan melakukan pemeriksaan para saksi-saki terlebih dahulu," terang AKP Suharyono, Kasat Reskrim Polres Tuban, Rabu (05/08/2015).

Guna memastikan apa penyebab kematian dari pelajar yang baru masuk SMAN Plumpang itu, pihak kepolisian juga akan meminta keterangan dari pihak rumah sakit. Pasalnya sebelum meninggal Wulandari sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit umum Tuban.

"Untuk informasi sementara dari pihak rumah sakit, bahwa pelajar itu mengalami demam sangat tinggi saat dibawa ke rumah sakit. Belum tau apa yang menjadi penyebab pastinya," tambah Suharyono.

Sementara itu, Kasat Reskrim memaparkan jika dalam pemeriksaan yang dilakukan terhadap tubuh pelajar tersebut petugas tidak menemukan adanya tanda-tanda penganiayaan atau kekerasan pada tubuh gadis tersebut. Sehingga petugas kepolisian belum bisa memastikan apa penyebab dari kematian pelajar itu.

"Dari pemeriksaan jenazah korban tidak ditemukan luka luar ataupun tanda-tanda penganiayaan. Kita masih mendalami kejadian itu," pungkasnya.

Seperti diberitakan kemarin, Dewi Retno Wulandari (15), seorang pelajar SMAN Plumpang, Kabupaten Tuban meninggal dunia diduga akibat mengalami kelelahan setelah mengikuti kegiatan MOS di sekolah itu. Korban meninggal dunia di rumah sakit umum Kabupaten Tuban pada hari Selasa (04/08/2015) kemarain setelah sempat dua hari mendapatkan perawatan medis.

Sementara itu, pihak Sekolah SMAN Plumpang, Kabupaten Tuban membantah jika salah satu siswinya itu tewas akibat kelelahan dan mengalami drop setelah mengikuti kegiatan MOS. Pasalnya kegiatan MOS di sekolah tersebut hanya berlangsung selama tiga hari saja, mulai Senin sampai dengan hari Rabu minggu kemarin.[mut/ted]

Berita Tuban - Tewasnya Dewi Retno Wulandari (15), pelajar SMAN Plumpang, Kabupaten Tuban yang diduga akibat kelelahan saat mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah tersebut menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban dan juga para tetangga, Selasa (04/08/2015).

Pasalnya pelajar anak pertama pasangan dari Jalil (52) dengan Istikomah (49), warga Desa Cangkring, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban itu terkenal sebagai anak yang rajin dan juga pendiam. 
Selama ini korban selalu aktif dan tidak pernah membolos sekolah waktu masih duduk di bangku SMP.

"Anaknya rajin, tidak pernah mengeluh. Bahkan waktu SMP juga aktif dan tidak pernah bolos," ungkap Jalil, ayah pelajar yang diduga tewas kelelahan setelah ikut kegiatan MOS itu.

Menurut Jalil, bahwa korban tidak pernah menceritakan apa yang terjadi selama pelaksanaan MOS yang dilakukan selama tiga hari di sekolah ia baru masuk itu. Namun selama tiga hari MOS, Wulandari disuruh membuat dan memakai baju yang terbuat dari sak yang biasa digunakan untuk tempat beras.

"Waktu MOS itu disuruh pakai baru dari sak sama topi yang kayak orang wisuda. Tapi di sekolahan kegiatannya apa dia tidak pernah cerita," cerita Ayah kandung pelajar tersebut sambil menahan tangis.

Sementara itu, Suparlin yang merupakan Kepala SMAN Plumpang, Kabupaten Tuban membantah jika salah satu siswinya itu tewas akibat kelelahan dan mengalami drop setelah mengikuti kegiatan MOS. Pasalnya kegiatan MOS di sekolah tersebut hanya berlangsung selama tiga hari saja, mulai Senin sampai dengan hari Rabu minggu kemarin.

"Sebenarnya begini ananda ini sudah di luar MOS, kegiatan MOS hanya tiga hari saja, Senin, Selasa dan Rabu. Waktu Hari Jumat, ada bersih-bersih kelas, ananda ini merasa kecapekan dan kemudian diantar guru kami pulang," terang Suparlin, Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN Plumpang, Tuban.

Suparlin, saat berada di rumah duka itu menjelaskan jika dalam kegiatan MOS SMAN Plumpang itu tidak ada kegiatan perpeloncoan. Sedangkan untuk para siswa kelas 10 yang baru masuk itu kegiatannya dikatakan dilakukan secara full di dalam ruang kelas. 

"MOSnya dilakukan full di dalam kelas, yang kelas sepuluh itu di lapangan hanya waktu upacara. Tidak membawa apa-apa, tidak membawa tas tertentu, hanya pakai baju itu," lanjut Suparlin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dewi Retno Wulandari (15), seorang pelajar SMAN Plumpang, Kabupaten Tuban meninggal dunia diduga akibat mengalami kelelahan setelah mengikuti kegiatan MOS di sekolah itu. Korban meninggal dunia di rumah sakit umum Kabupaten Tuban setelah dua hari mendapatkan perawatan medis.[mut/ted]

Berita Tuban - Ratusan mahasiswa dari Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) yang melakukan unjuk rasa terkait permasalahan kampus yang statusnya nonaktif, merasa kesal terhadap Rektor Unirow Tuban, Kamis (30/07/2015).

Pasalnya, saat para mahasiswa melakukan demo, Hadi Tugur, selaku Rektor Unirow tidak berada di kampus dan tidak mengikuti proses hearing dengan mahasiswa. Dalam hearing itu, mahasiswa hanya ditemui oleh pihak yayasan kampus, Pembantu Rektor, Dekan dan sejumlah dosen.

"Rektor Unirow adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas masalah ini. Tapi dimana dia sekarang?" teriak salah satu mahasiswa yang ikut dalam aksi tersebut.

Para mahasiswa yang melakukan aksi itu menanyakan keberadaan Rektor Unirow kepada Pembantu Rektor (PR) II yang melakukan hearing dengan mahasiswa untuk menjelaskan permasalahan status nonaktif yang dialami kampus dengan mahasiswa terbanyak di Kabupaten Tuban itu. 

Mendengar teriakan para mahasiswa itu, Marita, selaku Pembantu Rektor II, mengatakan saat ini Rektor Unirow sedang berada di Jakarta dan mengurus kembali supaya kampus ini aktif. Namun para mahasiswa tak percaya dan mereka meminta kepada PR II untuk menghubungi Kemenriset Dikti untuk mempertanyakan keberadaan rektor tersebut. "Pak Rektor ke Jakarta berangkat ke dikti," terang Marita, dihadapan para mahasiswa.

Sementara itu, dalam kesempatan aksi unjuk rasa besar-besaran itu,  selain meminta status Unirow kembali aktif, ratusan mahasiswa itu  juga menuding Rektor Unirow telah melakukan nepotisme. Hal itu dibeberkan dengan keberadaan istrinya sendiri yang menjabat sebagai Kepala SD Negeri Baturetno II telah menjadi Kepala Prodi (Kaprodi) FKIP PGSD Unirow Tuban.

"Ini merupakan bentuk dari KKN yang dilakukan oleh pak Tugur, jadi kami minta para senat untuk memilih rektor yang baru," ungkap Nabrisi Rohid, selaku Korlap dalam aksi itu.

Selain itu, ratusan mahasiswa yang telah menggalang tanda tangan dalam aksi di kampus Unirow Tuban itu juga meminta pihak kampus membuka data kekayaan kampus yang selama ini tidak pernah dipublikasikan. Hal itu perlu disampaikan untuk menghindari adanya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di kalangan kampus.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan mahasiswa dari Unirow Tuban melakukan aksi unjukrasa di lapangan wisuda kampus Unirow, jalan Manunggal, Kabupaten Tuban. Aksi tersebut dilakukan oleh para mahasiswa terkait dengan status Unirow yang nonaktif dan membuat mahasiswa resah.[mut/kun]

Berita Tuban - Ratusan mahasiswa dari Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Kabupaten Tuban melakukan aksi unjuk rasa yang berlangsung di lapangan wisuda Unirow jalan Manunggal, Kabupaten Tuban, Kamis (30/07/2015).

Dalam aksinya kali ini, ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan tersebut meminta kejelasan terkait dengan status kampus Unirow yang masih Nonaktif. Pasalnya dengan status Nonaktif membuat mahasiwa yang kuliah di perguruan tinggi itu selalu merasa resah.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan mahasiswa tersebut dilakukan dengan berorasi di lapangan kampus itu. Selain itu para mahasiswa menggalang tanda tangan menggunakan kain putih dari ratusan mahasiswa dan juga para dosen kampus itu.

"Kita sama-sama ikut tanda tangan supaya nasib kampus kita ini segera diperbaiki. Jangan takut apabila ada intimidasi dari siapapun," ujar Naha, salah satu mahasiswa yang melakukan orasi dalam aksi tersebut.

Untuk mengajak para dosen dan juga ratusan mahasiswa yang berada di dalam kampus untuk melakukan tanda tangan, para mahasiswa yang sedang aksi unjuk rasa itu juga melakukan sweping di ke ruangan-ruangan kampus. Mereka meminta semua mahasiswa untuk ikut gabung dan membubuhkan tanda tangan dalam aksi kali ini.

"Kita ingin kembali memperjuangkan kampus kita kedepan. Kita ingin semua permasalahan kampus segera diselesaikan," lanjut Juremi, mahasiswa lainnya yang ikut dalam aksi tersebut.

Selain melakukan aksi penggalangan tanda tangan untuk perbaikan status kampus yang Non-aktif itu, rencananya mahasiswa juga akan melakukan audensi secara terbuka. Audensi tersebut akan dilakukan bersama dengan pihak yayasan dan juga bersama pihak rektorat kampus Unirow Tuban.

Sementara itu, status kampus Unirow Tuban itu dinyatakan Nonaktif oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mencuat sejak bulan kemarin. Hal itu membuat ribuan mahasiswa dan juga alumni perguruan tinggi swasta di Kabupaten Tuban itu merasa resah.[mut/ted]

Berita Tuban - Ratusan mahasiswa dari Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Kabupaten Tuban meluruk kantor Yayasan Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP- PT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tuban, Jalan Manunggal 63-A Kabupaten Tuban, Senin (13/07/2015).

Ratusan mahasiswa dari Unirow tersebut meminta pihak yayasan untuk segera turun tangan menyelesaikan permasalahan kampus Unirow yang sekarang ini statusnya nonaktif. Selain itu, mereka meminta Rektor Unirow supaya secepatnya diganti agar permasalahan cepat bisa diselesaikan.

Ratusan mahasiswa Unirow yang mendatangi kantor yayasan PPLP-PT PGRI Tuban itu langsung ditemui ketua yayasan. Mereka meminta kepada pihak yayasan untuk segera melakukan upaya supaya status Unirow kembali aktif setelah dibekukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).

"Kami menuntut yayasan segera melakukan tindakan yang konkrit terkait permasalahan ini. Jangan sampai nasib mahasiswa terkatung-katung, apalagi sebentar lagi mahasiswa semester akhir akan wisuda," terang Nibrosu Rohid, salah satu mahasiswa yang ikut dalam aksi itu.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa resah dengan status nonaktif kampusnya itu meminta kepada pihak yayasan untuk segera mengambil tindakan dengan mengganti Hadi Tugur dari jabatan Rektor Unirow. Tak hanya itu, para mahasiswa juga menuntut agar yayasan melakukan rekrutmen dosen agar rasio dosen dengan mahasiswa berimbang.

"Kami sebagai mahasiswa telah melaksanakan kewajiban kami, seperti mengikuti proses perkuliahan dan biaya perkuliahan telah kami penuhi. Saat ini, kami menuntut universitas untuk memenuhi kewajibannya, yakni memberikan kepada kami perkuliahan dan ijazah yang sesuai dengan ketentuan," lanjut mahasiswa itu.

Sementara itu, menanggapi tuntutan dari para mahasiswa itu, pihak PPLP- PT PGRI Tuban akan segera melakukan komunikasi dengan Kopertis PGRI Jawa Timur. Selain itu, yayasan juga akan memanggil rektorat untuk melakukan klarifikasi terkait permasalahan yang terjadi di kampus Unirow.

''Kami akan melakukan komunikasi terlebih dahulu kepada Kopertis terkait tindakan yang akan kita ambil terkait Unirow ini,'' ungkap Totok Supijanto, Ketua Yayasan PPLP-PT PGRI Tuban setelah bertemu mahasiwa. [air/mut]

Berita Tuban - Dalam rangka memperingati Harlah Nahdlotul Ulama (NU) yang ke 96, ribuan pelajar yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Tuban menggelar pawai ta'aruf, Sabtu (09/05/2015).

Pawai ta'aruf tersebut start dari alun-alun Kota Tuban dan langsung diberangkatkan oleh Bupati Tuban Fatkhul Huda. Sedikitnya diikuti 2.300 pelajar mulai dari tingkat Madrasah Ibtida'iyah (MI) sampai dengan tingkat Madrasah Aliyah (MA) sederajat se Kabupaten Tuban.

Pantauan beritajatim.com di lapangan, dalam pawai yang bertujuan untuk mengenalkan Nahdlatul Ulama kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Tuban para pelajar melakukan berbagai kreasi. Mulai dari permainan marching band yang dilakukan pelajar tingkat MI sampai dengan permainan musik tradisional Tongklek.

"Peserta total 2.300 pelajar dari perwakilan masing-masing kecamatan yang ada di Tuban. Kegiatan pawai ta'aruf ini, baru pertama kali kita lakukan di Tuban," terang Didik Purwanto, Ketua Panitia Pawai Ta'aruf LP Ma'arif Tuban.

Didik menjelaskan, dengan kegiatan pawai tersebut akan muncul kecintaan warga Kabupaten Tuban khususnya terhadap organisasi Nahdlotul Ulama. Selain itu juga untuk menumbuh kembangkan aswaja bagi para warga masyarakat terutama para pelajar di Tuban Bumi Wali itu.

"Tentunya kegiatan seperti ini supaya warga NU tidak malu untuk mengakui dirinya sebagai orang NU. Selain itu untuk membentengi para pelajar dari gerakan-gerakan radikalisme yang menyimpang dari agama," lanjutnya.

Sementara itu, Bupati Tuban, Fathul Huda, dalam pemberangkatan pawai tersebut menyebut kalau pawai ta'aruf merupakan ajang perkenalan bagi Nahdlatul Ulama. Bupati berpesan kepada kader-kader NU untuk selalu melakukan tindakan yang terpuji.

"Untuk itu peserta harus melakukan tindakan yang terpuji. Tunjukkan identitas (NU) kita, kalau kita tidak akan pernah menjadi yang lain," ungkap Bupati Tuban dalam acara tersebut.[mut]

Berita Tuban - Kabupaten Tuban menjadi tuan rumah dalam rangka pelaksanaan Ajang Kompetisi Seni dan Olahrga (AKSIOMA) ke 9 tingkat Madrasah Aliyah (MA) se Jawa Timur 2015 yang diikuti oleh ribuan peserta pelajar MA dari berbagai kabupaten di Jatim.

Pembukaan kegiatan Aksioma yang akan berlangsung selama empat hari tersebut dilakukan di alun-alun Kabupaten Tuban. Ajang kompetisi bagi para pelajar yang dilaksanakan dua tahunan tersebut di buka oleh Lukman Hakim S, Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia yang sebagai Inspektur Upacara, Jumat (08/05/2015).

Kegiatan kompetisi yang memperbandingkan berbagai olahraga dan seni itu dihelat oleh Musyawarah Kerja Kepala (MKK) MAN se- Jatim. Yang mana acara ini diikuti 38 kabupaten di Jawa Timur dan melibatkan sekitar 2.028 peserta dan didampingi 766 Guru sebagai official.

"AKSIOMA ini diikuti peserta yang akan bertanding di 18 cabang kejuaraan," jelas Makhfud Sodar, selaku Kepala Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur saat memberikan sambutan dalam kegiatan itu.

Sebanyak 18 cabang kejuaraan yang akan dipertandingkan dalam kompetisi itu diantaranya adalah atletik lari, Futsal, Tenis Meja Bola Volly, Catur dan juga Badmointon. Selain itu adalah kejuaraan MTQ, Fahmil Qur'an, Pidato Bahasa Arab/Inggris, Festival Musik Band Islami, Cipta Puisi Kandungan Al Qur’an, Desain Grafis, Kaligrafi dan Khifdlil Qur’an.

Sementara itu, dalam kesempatan itu Menteri Agama, Lukman Hakim  menyatakan memberikan  apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan kompetisi akbar antara pelajar Madrasah Aliyah ini.

"Atas nama pribadi dan pemerintah saya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini," ujar Lukman Hakim, Menteri Agama RI saat memberikan sambutan kegiatan itu.

Dia mengatakan, kalau madrasah selama ini tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat. Institusi ini juga berkembang jauh sebelum Indonesia memproklamirkan diri kemerdekaannya. Madrasah tidak hanya institusi yang setara dengan sekolah umum, melainkan lembaga pendidikan yang mempunyai nilai plus.

"Untuk itu saya menyatakan selamat bertanding bagi atlet muda dan jawara," pungkasnya.

Selain kegiatan kompetisi berbagai perlombaan tersebut dalam pelaksanaan AKSIOMA se Jatim yang ke 9 kali ini juga dimeriahkan dengan adanya bazar. Yang mana bazar tersebut diisi dengan berbagai hasil karya para pelajar MA dari berbagai kabupaten yang ikut dalam kompetisi di Bumi Wali Tuban.[mut/ted]

Berita Tuban - Dalam pelaksanaan hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) 2015 ini, Bupati Tuban bersama dengan ketua DPRD Kabupaten Tuban melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di sejumlah sekolah yang ada di Kota Tuban, Senin (13/04/2015).

Bupati Tuban Fatkhul Huda bersama Miyadi, Ketua DPRD Tuban serta jajaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Tuban melihat suasana pelaksanaan ujian di beberapa sekolah. Selain itu saat melakukan sidak, bupati juga berdialog dengan sejumlah pengawas ujian dengan menanyakan bagaimana cara menyontek.

"Tadi kita tanya para pengawas bagaimana cara menyontek. Ternyata tidak ada yang bisa menjelaskan," ujar Fatkhul Huda setelah melakukan sidak Unas di beberapa sekolah tingkat SLTA yang ada di Kota Tuban.

Bupati menjelaskan, tingkat kejujuran dalam pelaksanaan Unas di wilayah Kota Tuban sudah sangat baik. Selain itu untuk tahun ini, dari hasil sidak tampak proses pelaksanaan ujian sudah semakin jujur dalam mengerjakan ujian.

"Kalau dari hasil sidak kejujuran sudah semakin baik di sekolah-sekolah yang ada di kota. Tapi untuk yang ada di pinggiran belum tahu seperti apa," lanjut Bupati Tuban.

Dalam kesempatan itu, Bupati Tuban menyatakan tidak memberikan target kepada sekolah yang ada di Kabupaten Tuban itu untuk lulus 100 persen dalam pelaksanaan Unas. Hal itu supaya tidak ada kecurangan dan  meningkatkan kejujuran pelaksanaan Unas bagi para pelajar di Tuban Bumi Wali itu.

"Kita berharap semua pihak berlaku jujur dalam menghadapi UN ini. Karena nilai baik jika didapatkan dari curang tidak akan ada manfaatnya," jelasnya.

Sementara itu, untuk pelaksanaan Unas hari pertama di Kabupaten Tuban berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala kekurangan soal maupun kendala lainnya. Adapun untuk pelaksanaan ujian nasional tahun 2015 di Kabupaten Tuban masih belum menggunakan cara on-line karena terkendala peralatan. [mut/but]

Berita Tuban - Hujan lebat yang menguyur wilayah Kabupaten Tuban lebih dari lima jam mengakibatkan banjir bandang menerjang beberapa desa yang berada di wilayah Kecamatan Merakurak, Rabu (04/01/2015).

Akibat banjir bandang kiriman dari wilayah perbukitan kapur itu, ratusan rumah warga di tiga desa terendam banjir. Tak hanya itu, gedung sekolah juga terendam banjir dan para siswa harus terpaksa diliburkan.

Data yang dihimpun wartawan, tiga desa yang kembali terendam banjir tersebut adalah Desa Kapu, Desa Tahulu dan Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Banjir yang merendam wilayah tersebut akibat jebolnya tanggul sungai Jambon, yang ada di Desa Sumurgung, Kecamatan Kota Tuban. "Banjirnya sudah sejak tadi malam, sampai sekarang baru mulai surut airnya," terang Takran, warga Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.

Saat banjir datang sejumlah warga dalam kondisi panik, pasalnya banjir yang bercampur lumpur datang dan masuk di wilayah pemukiman warga saat tengah malam. Sejumlah warga sedang tertidur saat banjir masuk di rumah-rumah mereka. "Kita ya langsung panik, banjirnya datang sekitar pukul 12 malam. Barang-barang kita selamatkan ditempat yang lebih aman," lanjutnya.

Hingga pagi ini, kondisi air bercampur lumpur masih mengenang di halaman rumah warga. Termasuk menggeangi gedung sekolah Madrasah Ibtida'iyah (MI) Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Tuban.

Ketinggian air di halaman sekolah yang sudah menjadi langganan banjir bandang itu mencapai sekitar 30 centimeter. Sehingga para siswa di sekolah tersebut terpaksa diliburkan dan nampak melakukan bersih-bersih ruangan yang terendam lumpur bekas banjir.

"Terpaksa diliburkan, karena memang kondisinya terendam banjir. Sekolah ini sudah menjadi langganan, kalau banjir besar yang sudah pasti libur," ujar salah satu guru di sekolah itu.

Selain merendam ratusan rumah dan juga gedung sekolah, banjir juga merendam akses jalan penghubung antar desa. Ketinggian air di jalan raya Desa Kapu yang menghubungkan dengan Kecamatan Kota Tuban itu masih mencapai ketinggian sekitar 80 centimeter.[mut/kun]

Berita Tuban - Sebagai bentuk keprihatinan atas kisruhnya antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan pihak Polri yang masih juga belum tuntas, sejumlah pelajar Madrasah Aliyah (MA) Ash-shomadiyah Tuban melakukan aksi damai, Rabu (28/01/2015).

Dalam aksi damai itu puluhan pelajar sekolah tersebut melakukan aksinya dengan cara Balap Karung. Yang mana peserta yang ikut dalam Balap Karung tersebut menggambarkan sebagai KPK dan Polri yang saling adu cepat.

Pantauan wartawan di lapangan, aksi keprihatinan atas kasus KPK vs Polri yang tak kunjung usai tersebut dilakukan oleh para pelajar di halaman sekolah MA Ash-Shomadiyah, yang berada di jalan Agus Salim, Kota Tuban. Mereka menilai jika kasus KPK vs Polri ini merupakan drama yang harus segera diakhiri. "Kasus KPK vs Polri harus segera diselesaikan. Karena ini sangat tidak baik saat dilihat oleh generasi muda," ujar Hendrik, salah satu siswa yang ikut dalam aksi damai itu.

Dalam aksi Balap Karung KPK vs Polri tersebut, para siswa dari sekolah tersebut memberikan pesan moral bahwa dua institusi tersebut harus sama cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam pemberantasan korupsi dan juga penegakan hukum. "Sebagai rakyat kecil kita sangat prihatin. Karena bapak-bapak dari KPK maupun Polri yang harusnya menjadi pengayom justru menjadikan hukum ditafsiri sebagai kepentingan masing-masing," ungkap Agus Riza Salahuddin Habibi, Kepala Sekolah MA Ash-Shomadiyah Tuban.

Menurutnya, Presiden Jokowi harus segera turun dan mengambil sikap tegas atas drama kisruh dua lembaga penegak hukum yang tidak kunjung tuntas. Karena kasus tersebut sangat tidak terdidik dan tidak terpuji untuk dilihat oleh generasi bangsa. "Komentar Jokowi harus tegas untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau drama ini tidak kunjung selesai justru sangat tidak terpuji dilihat oleh para generasi bangsa," pungkasnya.

Sementara itu, aksi damai Balap Karung KPK vs Polri atas keprihatinan kisruhnya KPK vs Polri dilakukan selama sekitar setengah jam. Para pelajar tersebut juga membeberkan tulisan yang menyerukan kerukunan kedua penegak hukum itu.[mut/ted]


Berita Tuban - Dalam proses pembelajaran mulai semester genap tahun ajaran 2014/2015, sejumlah sekolahan yang berada di wilayah Kabupaten Tuban tetap menggunakan Kurikulum 2013 (K13), meski sebagian besar telah kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006.

Sedikitnya ada 15 sekolahan di Kabupaten Tuban yang tetap menggunakan metode pembelajaran dengan K13. 

Yang mana sekolahan yang tetap bertahan dengan Kurikulum 2013 tersebut merupakan sekolah percontohan yang ada di Kabupaten Tuban, Rabu (14/01/2015)."Sesuai edaran kementrian pendidikan dasar dan menengah, ada 15 sekolah di Tuban yang tetap akan berlanjut dengan Kurikulum 2013," terang Heni Indriana, Kasi Kurikulum Bidang Pendidikan SMP/SMA/SMK Dinas Pendikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban.

Sebanyak 15 sekolah yang masih tetap menggunakan Kurikulum 2013 adalah dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ada enam sekolahan. Yakni SMPN 1, SMPN 5, SMPN 2, SMPN 3 Tuban, SMPN 1 Kenduruan, dan SMP Islam Bejagung.

Untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak kembali pada KTSP 2006 ada sebanyak sembilan sekolah. Yakni mulai dari SMA Negeri 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4 Tuban, SMAN 2 Plumpang, SMAN 1 Kenduruan, SMKN 1 dan 2 Tuban serta SMK Taruna Jaya Prawira (TJP), Tuban.

"Sekolahan tersebut telah melaksanakan K13 selama tiga semester. Sehingga tidak kembali pada KTSP 2006 karena oleh pemerintah sudah ditetapkan seperti itu," lanjutnya.

Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut dari 15 sekolah tersebut sempat ada satu sekolah yang akan kembali pada KTSP 2006 karena ada beberapa kendala yang dihadapi. Namun karena telah menjadi sekolah yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga pihak sekolah tetap bersedia bertahan menggunakan K13.[mut/ted]

Berita Tuban - Sejumlah rumah dan juga gedung sekolahan yang berada di wilayah Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban masih terendam air akibat dari banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut tadi malam.

Akibat bangunan tergenang air banjir yang bercampur lumpur warna merah tersebut aktifitas belajar mengajar di Sekolah Madrasah Ibtida'ian (MI) Salafiyah dan juga PG RA Muslimat yang ada di Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Tuban terpaksa diliburkan, Kamis (18/12/2014).

"Ini kegiatan belajar mengajar terpaksa diliburkan. Karena air masih mengenang," terang Musmilin, salah satu guru yang ada di sekolah tersebut.

Pantauan wartawan, ketinggian air akibat banjir bandang yang terjadi semalam masih merendam beberapa rumah yang ada di Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Ketinggian air yang berwarna kecokelatan tersebut masih mencapai sekitar 30 centimeter di dalam rumah.

"Tadi malam airnya sangat kencang sampai masuk dalam ruangan kelas. Kalau di halaman sekitar 80 centimeter, ini sudah langganan," lanjut Muslimin.

Akibat sempat tergenang banjir, sejumlah warga nampak membersihkan rumah-rumah mereka yang masih terdapat lumpur. Tak hanya itu, sejumlah guru dari sekolahan tersebut juga nampak membersihkan ruangan yang terendam air bercampur lumpur.

"Untuk barang-barang semua aman, karena ketinggian air di dalam masih tidak terlalu tinggi," ungkapnya.

Sementara itu, selain merendam ratusan rumah, banjir bandang yang menerjang beberapa desa di Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban juga merendam akses jalan alternatif dan juga area persawahan. Puluhan lahan pertanian yang ada di kecamatan tersebut terendam air banjir dan tidak bisa ditanami.

"Kalau seperti ini terus ya kita tidak bisa tanam. Banjir bandang seperti ini sudah terjadi dua kali selama musin hujan ini," ungkap Muri, salah satu Petani Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Tuban. [mut/but]

Berita Tuban - Pada tahun 2015, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ) akan terus berupaya meningkatkan produksi minyak pada sumur-sumur yang berada di lapangan Sukowati, Bojonegoro dan lapangan Mudi yang ada di Kabupaten Tuban.
"Sumur-sumur itu secara alamiah sedang mengalami penurunan, namun dengan segala kemampuan dan pengalaman, JOB PPEJ akan berupaya bisa mempertahankan produksi. Bahkan berupaya untuk meningkatkan kembali produksinya," kata Akbarsyah, General Manager  JOB PPEJ disaat memberi sambutan pada acara Media Edutainment & Field Visit 2014 di Surabaya, Rabu (10/12/2014) kemarin.

Dalam kesempatan itu, Akbarsyah menjelaskan, pada tahun 2012 produksi dari sumur-sumur yang ada di Sukowati dan Mudi bisa mencapai 40,321 bopd (barrel oil per day). Namun pada tahun 2013 turun menjadi 33/114 bopd dan pada November 2014 rata-rata produksi kembali turun menjadi 25.244 bopd.

"Hingga akhir Desember produksi kita perkirakan rata-rata mencapai 25.105 bopd. Kita lihat, meski kami sudah berupaya menahan arus penurunan alamiah lewat perawatan pada sumur-sumur yang kini masih berproduksi, tetapi tren produksi masih terus turun," lanjutnya.

Untuk bisa kembali meningkatkan produksi sangat bergantung pada keberhasilan kegiatan pencarian cadangan baru dan pengeboran sumur produksi baru. Sementara untuk usaha mencari cadangan baru dan pengeboran, pihak JOB PPEJ berharap bisa mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan yang ada di Tuban dan Bojonegoro, termasuk insan media.

"Saya yakin, semua masalah itu akan lebih mudah kami atasi jika kami mendapat dukungan dari media. Media  bukan hanya menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi juga bisa berperan mengedukasi masyarakat atas arti penting kegiatan eksplorasi dan eksploitasi bagi peningkatan kedaulatan energi nasional," harap Akbarsyah dalam kegiatan tersebut.

Ia menegaskan upaya meningkatan kembali produksi di sumur-sumur Sukowati dan Mudi harus terus diupayakan karena kebutuhan produksi minyak nasional terus meningkatkan. Sebagai salah satu KKKS yang mendapat amanah mengelola lapangan Sikowati dan Mudi, JOB PPEJ berkeinginan ikut berkontribusi pada peningkatan kedaulatan energi nasional.

Namun, upaya untuk menemukan cadangan baru maupun melakukan eksploitasi pada sumur baru bukan hanya menyangkut masalah teknis saja. Tetapi juga menyangkut masalah perizinan dan masalah sosial.

"KKKS, termasuk JOB PPEJ tidak bisa berkerja sendiri. Pemerintah bahkan telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2012. Karena itulah kami sangat membutuhkan dukungan dari teman-teman wartawan bagaimana kegiatan kami bisa mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya.[mut]

Berita Tuban - Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban masih melakukan rapat koordinasi dengan jajahannya terkait Pembatalan penerapan Kurikulum 2013 (K13) oleh Kementerian Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah 

Setelah menerima surat edaran dari kementerian, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Tuban mengaku telah  melakukan rapat koordinasi secara terbatas dengan sejumlah Kepala Bidang (Kabid) dan Kepala Seksi (Kasi) di lingkup Disdikpora Tuban. "Kami baru saja menerima edaran itu dan langsung kami melakukan rapat terbatas dengan Kabid dan Kasi. Mereka supaya melakukan koordinas dengan masing-masing sekolah," terang Sutrisno, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Tuban.

Dalam hasil rapat koordinasi tersebut, Sutrisno menjelaskan tidak semua sekolah akan langsung kembali ke kurikulum 2006. Pasalnya sesuai dengan petunjuk edaran yang diterima, masih ada sekolahan yang dapat melanjutkan kurikulum 2013.

"Tentunya tidak semua langsung kembali ke Kurikulum 2006. Namun yang jelas masih ada pilihan jika sekolahan mau melanjutkan kurikulum 13 atau kembali ke kurikulum lama," sambung Sutrisno.

Dengan adanya perubahan kurikulum 13 tersebut, dia berharap kepada seluruh siswa, wali murid maupun guru untuk tidak panik. Pasalnya pembatalan K13 tersebut tentunya memiliki tujuan yang lebih baik.

"Kami mengimbau kepada guru supaya tetap mendidik dengan baik, para siswa tetap fokus dan belajar dengan sungguh-sungguh. Selain itu para orang tua siswa supaya jangan khawatir dengan perubahan ini," pungkasnya.[mut/ted]
Foto Ilustrasi

Berita Tuban - Guna menekan terjadinya angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya di wilayah Kabupaten Tuban, petugas Satuan Lalu Lintas Polres Tuban terus melakukan kegiatan sosialisasi terkait keselamatan berlalu lintas di jalan raya.

Salah satu lokasi untuk melakukan sosialisasi tersebut adalah sejumlah sekolah tingkat SMA yang ada di Tuban dengan sasaran para pelajar. Petugas memberikan himbuan dan mengajak para pelajar untuk tertib di jalan saat mengendarai sepeda motor, Selasa (18/11/2014).

"Kita terus berupaya melakukan penekanan angka kecelakaan di wilayah Tuban. Salah satu sasarannya adalah para pelajar sebagai generasi bangsa," jelas AKP Faqih, Kasat Lantas Polres Tuban.

Selama ini, angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar masih terbilang tinggi. Dari sebanyak 119 peristiwa kecelakaan pada bulan Oktober 2014, pelajar yang menjadi pelaku dalam kecelakaan ada sebanyak 15 orang dan yang menjadi korban lebih dari 15 orang.

"Dalam kegiatan Dikmas Lantas ini kita menerangkan dan menjelaskan kepada para pelajar terkait pentingnya tentang keselamatan di jalan raya. Selain itu, kita jelaskan pentingnya kelengkapan kendaraan maupun kelengkapan pengendara mulai helm dan lain sebagainya," sambung Kasat Lantas.

Tak hanya dengan sasaran para pelajar, kegiatan Dikmas Lantas terkait keselamatan lalu lintas tersebut juga dilakukan terhadap masyarakat umum maupun kelompok ataupun komunitas yang ada. Seperti para komunitas motor, mobil maupun para tukang becak yang ada di wilayah Kota Tuban. [air/mut]

Berita Tuban - Guna mengenalkan dasar-dasar Jurnalistik dan juga untuk meningkatkan minat baca dan menulis bagi pelajar, komunitas wartawan yang bertugas di wilayah Kabupaten Tuban telah memberikan pelatihan terhadap para pelajar.

Kegiatan pelatihan yang dilakukan secara berkala  yang dilaksanakan komunitas wartawan yang tergabung dalam Ronggolawe Press Solidarity (RPS) yang bekerja sama dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk telah diikuti sebanyak 1.120 pelajar dan mahasiswa yang ada di wilayah Kabupaten Tuban, Senin (10/11/2014).

Kegiatan pelatihan Jurnalistik dasar tersebut telah dilakukan sejak awal tahun 2014 yang lalu dengan langsung mendatangi sekolah-sekolah tingkat SLTA yang ada di wilayah Tuban. Termasuk sekolah yang ada di sekitar ring satu Pabrik PT Semen Indonesia.

"Untuk total sekolahan yang telah mengikuti kegiatan pelatihan dasar-dasar Jurnalistik sebanyak 29 SMA sederajat. Sedangkan perguruan tinggi ada tiga," terang Khoirul Huda, Ketua RPS Tuban yang merupakan komunitas wartawan Tuban.

Kegiatan pelatihan terakhir yang diberinama Sekolah Jurnalistik dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Tuban dengan jumlah peserta sebanyak 32 siswa. Para pelajar SMK tersebut sangat antusias untuk terkait jurnalistik dan juga menulis berita.

"Kita saling berbagi ilmu tentang dunia jurnalistik kepada pelajar. Harapannya mereka akan paham tentang jurnalistik dan bisa diterapkan dalam pembuatan majalah di sekolah," sambung Huda.

Pada kegiatan terakhir pelatihan dan juga penutupan Sekolah Jurnalistik langsung dihadiri oleh Bupati Tuban, Kepala Dinas Pendidikan dan juga perwakilan dari pihak PT Semen Indonesia. Dalam kesempatan itu, Bupati menyatakan jika kegiatan pelatihan jurnalistik sangat bermanfataan bagi para siswa untuk belajar menulis.

"Jadi hasil dari pelatihan seperti ini supaya bisa diterapkan oleh para siswa, minimal untuk membuat majalah dinding di setiap sekolah. Karena memang kalau untuk membuat majalah butuh biaya mahal," jelas Fatkhul Huda, Bupati Tuban saat memberikan sambutan.

Lebih lanjut Bupati Tuban meminta kepada para siswa dari berbagai sekolah yang hadir dalam penutupan Sekolah Jurnalistik itu untuk menerapkan hasil pelatihan dengan menulis wawasan ilmiah. Karena hasil dari pelatihan tersebut kalau tidak diterapkan akan hilang begitu saja.[mut/but]