Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Berita Tuban - Meski telah selesai dilakukan pembangunan, tandon air yang berada di Desa Ngrejeng, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban masih belum difungsikan padahal wilayah itu sudah mengalami kekeringan.

Hal tersebut membuat warga merasa kecewa pasalnya keberadaan tadon air bersih tersebut sangat dibutuhkan bagi warga sekitar. Pihak desa dan juga warga berharap tandon air bersih yang dibangun dengan menggunakan dana APBD Kabupaten Tuban itu segara bisa difungsikan, Minggu (26/07/2015).

"Kami berharap, tandon itu segera difungsikan, ini sudah musim kemarau. Biasanya di sini kesulitan air saat musim kemarau seperti ini," terang Bahrul Ulum, Kepala Desa (Kades) Ngrejeng, Kecamatan Grabagan, Tuban.

Bahrul Ulum menjelaskan, dalam pembangunan tandon itu Pemerintah Kabupaten Tuban terkesan hanya menghamburkan uang APBD saja.  Pasalnya, fasilitas tandon air untuk warga yang menghabiskan dana sebesar Rp 884.415.000 itu belum juga difungsikan meski pengerjaannya sudah selesai cukup lama.

"Sarana prasarana sudah siap, serta percobaan menaikkan air dari sumber air menuju tandon tanpa masalah. Jangan sampai fasilitas yang sudah dibangun menggunakan uang APBD itu rusak sebelum dimanfaatkan," lanjut Bahrul Ulum.

Pihak Desa Ngrejeng sendiri mengaku sebenarnya sudah siap oprasional fasilitas tandon air itu, karena masyarakat yang sudah mendesaknya. Bahkan pihak desa telah membuat kelompok pengelola air bersih dan tinggal melaksanakan saja dan warga juga siap jika nanti ada iuran.

"Kami sudah membuat kelompok pengelola air bersih dan tinggal melaksanakan saja. Dan warga kami juga siap jika nanti ada iuran untuk kemanfaatannya," paparnya.

Sementara itu, untuk di desa tersebut setiap musim kemarau ada sekitar 600 kepala keluarga yang biasa mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih dari 800 rumah tangga yang ada di desa tersebut. Sehingga hanya ada 200 keluarga saja yang tercukupi kebutuhan air bersih karena dekat dengan sumber air.[mut/ted]

Berita Tuban - Petugas gabungan dari jajaran Polres Tuban, bersama tim Dokter Kepolisian dan juga Dinas Perhubungan Kabupaten Tuban melakukan pemeriksaan tes urin terhadap para pengemudi bus  maupun MPU yang melintas di jalur Pantura Tuban, Rabu (15/07/2015).
Para pengemudi bus dan MPU dengan berbagai jurusan tersebut menjalani tes urine di terminal baru Kabupaten Tuban. Dari hasil pemeriksaan urine itu satu pengemudi MPU positif terdeteksi memakai obat-obatan berbahaya yang bisa terdeteksi melalui tes urine.
Pantauan wartawan, puluhan pengemudi dan juga mobil penumpang umum (MPU) yang melintas di jalur pantura Tuban tersebut semua dimasukkan ke dalam terminal. Selanjutnya mereka dilakukan pendataan untuk selanjutnya diambil urinenya guna dilakukan tes.
"Kita total melakukan pemeriksaan urine dari sebanyak 59 pengemudi bus antar kota maupun antar provinsi dan juga mpu yang melintas di jalur Pantura Tuban," terang AKP Budi Friyanto, Kasat Narkoba Polres Tuban.
Kasat Narkoba menjelaskan, bahwa dari 59 pengemudi kendaraan umum yang dilakukan pemeriksaan tersebut satu orang tes urinenya terdeteksi mengandung Methampethamine. Sehingga pengemudi itu langsung dilakukan pemeriksaan oleh tim Dokter Kepolisian (Dokpol) yang ikut dalam tes itu.
"Ada satu pengemudi yang memang positif terdeteksi. Tapi setelah kita kroscek bersama tim dokter, dia telah mengkonsumsi obat sakit kepala," lanjut Kasat Narkoba.
Sementara itu, kegiatan tes urine terhadap para pengemudi bus yang melintas di jalur Pantura Tuban tersebut adalah untuk mengetahui apakah ada pengemudi yang memakai Narkoba atau tidak. Tujuannya supaya bisa mencegah terjadinya kecelakaan pada saat arus mudik 2015 ini.
"Ini merupakan pelayanan kemanusiaan dalam Operasi Ketupat Semeru 2015. Tujuannya adalah untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan yang bisa menyebabkan banyak korban jiwa," pungkas AKP Budi Friyanto, setelah melakukan kegiatan itu.[mut/kun]

Berita Tuban  - Angka kematian ibu melahirkan dan anak yang baru lahir jumlahnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Namun meski terus menurun jumlah kematian ibu dan bayi tersebut pada tahun 2015 ini masih terbilang tinggi, Rabu (24/06/2015).

Data yang dihimpun wartawan, kematian ibu saat proses melahirkan tersebut mulai menurun sejak tahun 2013 dari tahun 2012. Penurunan jumlah kematian ibu melahirkan pada tahun 2014 kemarin itu sangat banyak mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan tahun 2012.

Pada tahun 2012 ada sebanyak 24 ibu melahirkan yang meninggal dunia, kemudian tahun 2013 jumlah kematian ibu yang melahirkan mencapai 12 orang dan jumlah bayi yang meninggal sebanyak 171 bayi. 
Sedangkan pada untuk tahun 2014 kemarin ibu melahirkan yang meninggal dunia sebanyak 10 orang dan jumlah bayi yang meninggal tetap naik menjadi 186 bayi.

"Trenya memang turun, data tahun lalu turun dibanding tahun sebelumnya. Namun angka ini masih cukup tinggi," terang Dr Saiful Hadi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban.

Sejak awal tahun 2015 sampai dengan bulan sekarang ini sudah ada sebanyak delapan ibu melahirkan yang meninggal saat proses persalinan. Sedangkan jumlah bayi yang meninggal dunia sudah ada sebanyak 80 jiwa.

"Jangan sampai jumlah itu bertambah lagi. Karenanya kami mengupayakan dengan kesadaran bersama untuk mengetahui penanganan dan bagaimana mencegah agar itu tidak terjadi, karena kita hanya bisa mengupayakan," lanjutnya.

Sementara itu, Saiful menjelaskan bahwa beberapa faktor penyebab dari kematian ibu dan bayi saat proses melahirkan diantaranya adalah akibat adanya pendarahan yang menjadi penyebab terbesar. Selain itu adalah keracunan melahirkan atau tekanan darah tinggi dan penyakit jantung bagi ibu, dan kurangnya asupan gizi bagi bayi.

"Faktor - faktor inilah yang harus diketahui, tidak hanya ibu hamil namun juga seluruh elemen masyarakat dan lingkungan agar saat menemukan hal seperti itu dapat langsung ditangani dengan cepat," pungkasnya.[mut/ted]

Berita Tuban - Dengan adanya larangan dari melalui peraturan Menteri Perdagangan terkait peredaran minuman beralkhohol di mini market, pihak Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Kabupaten Tuban mulai gencar melakukan razia, Selasa (24/03/2015).

Razia tersebut sudah mulai di lakukan oleh Disperpar Tuban di sejumlah swalayan dan mini market yang ada di Kota Tuban. Kegiatan tersebut juga melibatkan petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tuban dan juga aparat kepolisian Polres Tuban.

Dari informasi yang dihimpun wartawan, sebelum melakukan razia, pihak Dinas Perekonomian telah terlebih dahulu mengeluarkan surat edaran kepada sejumlah swalayan dan mini market. Yang mana surat edaran itu berisi tentang larangan penjualan minuman beralkohol.

"Untuk memastikan bahwa edaran kami diberlakukan atau tidak, makanya ini kami melakukan kegiatan razia bersama dengan Polisi dan Satpol PP," terang Sunaryo, Kasi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Disperpar Kabupaten Tuban.

Pemberlakuan larangan penjualan minuman beralkohol tersebut akan dimulai pada tanggal 16 April 2015 mendatang. Meski demikian jika masih ditemukan ada mini market yang berjualan minuman beralkohol maka akan langsung dilarang oleh petugas. "Tegang waktu adalah tanggal 16 April untuk ditarik dari peredaran. Tapi jika sekarang masih ada sudah kami larang untuk dijual," lanjutnya.

Dalam kegiatan razia tersebut petugas gabungan tidak menemukan adanya swalayan maupun mini market yang berjualan minuman beralkohol. Namun saat melakukan pemeriksaan petugas menemukan ada sejumlah makanan ringan yang kemasannya dalam kondisi rusak.

"Untuk hasilnya tidak ada yang menjual minuman beralkohol. Tapi tadi kita temukan beberapa maknan yang kemasannya rusak, jadinya kami larang untuk dijual," lanjut Sunaryo, setelah melaksanakan kegiatan itu.[mut/kun]

Berita Tuban - Petugas dari Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Kabupaten Tuban melakukan razia sejumlah toko penjual buah-buahan yang berada di wilayah Kabupaten Tuban terkait beredarnya buah Apel impor dari Amerika Serikat yang mengandung bakteri, Selasa (03/02/2015).

Dalam razia itu, petugas berhasil menemukan barang bukti apel impor asal Amerika Serikat yang masih dijual. Petugas kemudian menyita barang bukti beberapa apel yang dinilai membahayakan bagi para konsumen.

Razia buah apel impor itu dilakukan oleh beberapa petugas dari Disperpar Kabupaten Tuban mulai dari pasar buah yang ada di jalan Gajah Mada, Kota Tuban. Satu persatu lapak buah milik pedagang yang ada di pasar buah itu diperiksa oleh tim dari Disperpar Tuban.

"Sesuai intruksi Menteri Perdagangan untuk menarik peredaran apel yang mengandung bakteri. Makanya kita lakukan sidak di pasar buah dan sejumlah toko buah di Kabupaten Tuban," ujar Sunaryo, Kasi Meterologi dan Perlindungan Konsumen, Bidang Perdagangan, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban.

Saat melakukan pemeriksaan di toko buah yang ada di jalan Patimura, Kabupaten Tuban, petugas berhasil menemukan pedagang yang menjual apel impor jenis Royal Gala yang sudah tidak boleh beredar. Sehingga pihak Dinas langsung mengumpulkan apel impor asal Amerika Seikat itu dan kemudian menyitanya.

"Dari pasar dan toko buah kita temukan apel jenis Gala, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Buah yang kita temukan langsung kita sita dari pedagang," lanjut Sunaryo, setelah kegiatan sidak itu.

Untuk apel jenis Granny Smith yang juga dilarang beredar di Indonesia karena disinyalir mengandung bakteri berbahaya itu sudah tidak ditemukan di wilayah Kabupaten Tuban. Pasalnya sejumlah pedagang sudah lama tidak pernah mendapatkan kiriman apel jenis grany smith dari distributor.

"Untuk yang jenis Smith para pedagang sudah tidak dikirim sejak sekitar satu bulan. Kita menghimbau kepada para pedagang untuk tidak lagi menjual dan menerima kiriman buah itu," pungkasnya. [mut/but]

Berita Tuban - Sejak awal tahun 2015 ini yang bersamaan dengan datangnya musim penghujan, wabah Demam Berdarah Dengue(DBD) mulai menyerang beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Tuban, Minggu (25/01/2015).

Dalam satu bulan terakhir satu warga telah dinyatakan meninggal dunia akibat terserang DB. Sedangkan puluhan warga lainnya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit karena terjangkit penyakit yang bisa menyebabkan kematian tersebut.

Data yang dihimpun wartawan, sejuah ini wilayah yang paling terparah terjangkit Demam Berdarah adalah Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Di kecamatan itu satu warga dinyatakan meninggal dunia dan tujuh warga lainnya positif terserang DB.

"Untuk wilayah Kecamatan Singgahan baru kali ini ada banyak warga yang terjangkit DBD. Padahal tahun 2014 kemarin hanya ada satu orang," terang Saiful Hadi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban.

Selain di Kecamatan Singgahan, wilayah yang sudah mulai terjangkit dengan wabah DBD adalah Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Di kecamatan tersebut sempat diinformasikan bahwa ada belasan warga yang mengalami sakit dan harus dirawat di rumah sakit akibat terserang Demam Berdarah.

"Untuk masyarakat Desa Jadi, Kecamatan Semanding yang positif terkena DBD hanya ada dua. Selama ini, kalau ada warga masyarakat yang demam atau panas tinggi oleh masyarakat semua dibilang DBD, padahal itu penyakit lainnya," lanjutnya.

Sementara itu total warga masyarakat Kabupaten Tuban yang terjangkit DBD pada awal tahun 2015 sebanyak 38 orang dari berbagai kecamatan. Selain itu Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban telah menetapkan Kecamatan Singgahan, Tuban sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) Deman Berdarah.

"Saat ini yang kita tetapkan sebagai wilayah KLB DBD baru Kecamatan Singgahan saja. Karena memang ada banyak warga yang terjangkit DBD itu," jelas Saiful Hadi.[mut/kun]

Berita Tuban - Bau gas yang muncul dari well tes SKW 28 Lapangan Sukowati, Blok Tuban tidak berbahaya. Sebab bau yang timbul dari sumur minyak dan gas yang baru dibor itu tidak mengandung bahan beracun. Gas tersebut mengandung CO2 dan H2S.

Field Manager Join Operting Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ), Junizar mengatakan,  bau gas yang menyebar sebagian masyarakat di Desa Ngampel, Kecanatan kapas, Kabupaten Bojonegoro, bukanlah gas beracun dan tidak berbahaya.

“Bau menyengat dipastikan bukan gas beracun setelah dilakukan pengecekan di lapangan menggunakan gas detector,” ujar Field Manager JOB PPEJ, Junizar, Kamis (13/11/2014).

Dia menyampaikan, saat ini rangkaian dari well tes SKW-28 yang baru di bor dan dilakukan pelepasan sumbatan di formasi yang menyebabkan minyak tidak mau keluar dengan injeksi nitrogen tekanan tinggi yang kemudian dilepas ke flare.

“Di flare tidak ada api karena yang keluar baru gas nitrogennya atau disebut non flammable. Baunya seperti air yang terendam lama,” jelasnya.

Gas yang keluar dari sumur dengan kedalaman sekitar 2,5 km itu diduga merupakan campuran air dengan nitrogen. Gas nitrogen yang dimasukkan kedalam sumur itu berfungsi untuk memperlancar sumur. Sebab, sumur tersebut belum keluar minyak dan gas buminya.

Sebelumnya, kata Junizar, JOB PPEJ setiap kkali akan melakukan kegiatan selalu melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah desa setempat. Saat ini di Lapangan Sukowati, khususnya di Pad B ada sekitar 28 sumur.

Sementara untuk mengantisipasi adanya bau yang menyebar ke warga dan lingkungan pendidikan, Sekolah SDN 1 Ngampel mengimbau kepada sejumlah muridnya untuk membawa masker. Hari ini sejumlah siswa dipulangkan lebih awal karena bau tersebut muncul sekitar pukul 11.00Wib.

Salah seoarang guru kelas IV, SDN 1 Ngampel, Bojonegoro, Prapti mengatakan, karena mencium bau tidak enak kemudian seluruh siswa ipulangkan lebih awal. "Hari ini pulang lebih awal karena bau yang tidak sedap," terangnya. [uuk/ted]


Berita Tuban - Guna melakukan pencegahan dan untuk mencari tahu apakah ada anggota yang menjadi pemakai Narkoba atau tidak, jajaran Polres Tuban menggelar tes urine bagi seluruh anggota yang dilakukan secara berkala, Senin (27/10/2014).

Pelaksaan tes urin yang dilakukan hari ini diikuti oleh sejumlah anggota maupun Perwira di jajaran Polres Tuban. Hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen dari jajaran Polres Tuban supaya anggotanya bersih dari pemakaian Narkoba.

"Kegiatan ini semua adalah bentuk antisipasi supaya tidak ada anggota yang menjadi pemakai Narkoba," terang AKBP Ucu Kuspriyadi, Kapolres Tuban. Kapolres menjelaskan jika tes urine tersebut akan dilaksanakan terhadap seluruh anggota jajaran Polres Tuban. Yang mana diantara yang sudah mengikuti tes urine hari ini adalah Kapolres Tuban sendiri, Waka Polres, Kabag, Kasat dan juga beberapa anggota. "Semuanya dites termasuk saya sendiri, semua perwira maupun anggota Polsek. Kegiatan ini kita kerjasama dengan rumah sakit Bhayangkara Bojonegoro," lanjutnya setelah mengikuti tes urine tersebut.

Pelaksanaan tes urine bagi para anggota Polres Tuban tersebut merupakan komitmen dari pihak kepolisian untuk memerangi peredaran obat-obatan terlarang di wilayah Kabupaten Tuban. Sedangkan untuk mewujudkan hal itu maka pihak internal Polres Tuban juga harus bersih.

"Kalau memang ada anggota yang terbukti memakai Narkotika maka akan mendapatkan sangsi tegas. Kita ini mengikuti pidana umum, selain itu masih ditambah sangsi disiplin dan juga kode etik," tegas Kapolres Tuban. Kapolres berjanji akan membuka kepada publik untuk hasil dari tes urine yang telah dilakukan terhadap para anggota. Mengenai apakah ada anggota yang terbukti memakai Narkoba atau tidak saat ini masih dilakukan pemeriksaan oleh Dokter Kepolisian (Dokpol).[mut/kun]

Berita Tuban - Meski belum sepenuhnya ditempati, kondisi bangunan Rest Area milik Pemkab Tuban yang berada di bekas Terminal Lama, jalan RE Martadinata, kondisinya sangat memprihatinkan.

Pasalnya, kondisi bangunan senilai miliaran rupiah tersebut sudah banyak mengalami kerusakan pada bangunannya. Selain itu kondisi toilet juga kumuh dan sejumlah pintunya sudah rusak parah.

Pantuan wartawan di lapangan,  Minggu (31/08/2014), kondisi kerusakan sudah terjadi pada bagunan toilet. Sejumlah pintu toilet sudah terlepas dan jebol. Selain itu tampak sampah yang berserakan dan kondisi air yang juga tidak menyala. "Kondisinya sudah sangat jorok mas, pintunya juga rusak," ujar Lukman, salah satu warga yang sedang berhenti di Rest Area tersebut.

Tak hanya kondisi toilet yang sudah mengalami kerusakan, sejumlah rumput yang menjadi hiasan taman juga terlihat kering dan mati. Hal tersebut dimungkinkan kurangnya perawatan pada tanaman untuk taman di lokasi peristirahatan bagi pengguna jalan itu.

"Kalau sudah seperti ini orang mau mampir yang males mas. Makanya kok masih sepi," lanjut warga lain.

Sementara itu, Imron Achmadi, selaku Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban, menjelaskan bahwa terkait dengan kerusakan toilet Rest Area itu diduga ada tangan jahil yang sengaja merusak dengan memaksa masuk untuk menggunakan toilet itu.

"Kemungkinan ada yang memaksa membuka pintu toilet sehingga menyebabkan kerusakan. Karena grand opening saja belum kita lakukan," terang Imroh Achmadi. 

Pidak Dinas Perekonomian dan Pariwisata mengaku akan segera melakukan perbaikan kondisi toilet yang mengalami kerusakan tersebut. Selain itu, sekarang pihaknya juga sedang memasang instalasi listrik di ruko-ruko yang ada di kawasan Rest Area tepi laut itu.[mut/kun]
Foto ilustrasi. 

Berita Tuban - Banyaknya jumlah pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan polindes yang tersebar di wilayah Kabupaten Tuban ternyata masih kekurangan jumlah tenaga medis untuk bertugas.

Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk yang ada, wilayah Tuban masih kekurangan sekitar 247 tenaga medis dari sebanyak 846 orang tenaga medis yang dibutuhkan untuk bertugas di puskemas dan juga polindes.

"Sampai sekarang ini kita masih kekurangan tenaga medis. Kekurangan itu baik untuk tenaga dokter maupun perawat untuk puskesmas yang ada," terang Saiful Hadi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban, Kamis (28/08/2014).

Syaiful menjelaskan, sesuai dengan standar pelayanan dalam setiap puskesmas saja paling tidak yang dibutuhkan adalah lima tenaga kesehatan. Yakni mulai dari tenaga perawat, tenaga laborat, bidan, tenaga penyuluh hingga tenaga administrasi. 

"Meski kekurangan terkait ketenagaan, kita tidak bisa sembarangan melakukan perekrutan walaupun ada banyak lulusan dari pendidikan kesehatan di Kabupaten Tuban. Kita tidak bisa langsung mengangkat begitu saja," lanjut Syaiful.

Sementara itu, meski mengalami kekurangan ratusan tenaga dokter dan perawat untuk Puskesmas, dalam perekrutan tenaga pemerintah Kabupaten Tuban tahun ini Dinkes hanya mendapatkan kuota sembilan orang saja. Yakni empat dokter untuk rumah sakit, empat medis untuk Puskesmas dan satu tenaga administrasi. [mut/but]

Berta Tuban - Meski sudah memasuki musim kemarau, penyakit demam berdarah masih juga menyerang warga di wilayah Kabupaten Tuban. Belasan warga di Tuban terserang penyakit Demam Berdarah (DB) dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit.

Data yang dihimpun wartawan, sejak bulan Juli sampai Agustus 2014 sudah ada sekitar 14 warga dari berbagai daerah di Tuban yang terserang penyakit Demam Berdarah (DB). Satu diantara penderita serangan DB tersebut meninggal dunia saat perawatan.

"Sejak bulan Juli ada empat belas pasien DB dengan kondisi bervariasi. Satu diantaranya kritis dan akhirnya meninggal dunia," jelas Siswanto, Selaku Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuban, Sabtu (23/08/2014).

Hingga saat ini, masih ada beberapa pasien yang menjalani perawatan di RSUD Tuban karena sakit akibat gigitan nyamuk tersebut. Sebagian besar dari para penderita penyakit Demam Berdarah (DB) tersebut merupakan anak-anak.

"Seluruh pasien yang masuk dengan gejala DB langsung dilakukan uji lab. Jika positif tentu penanganan lanjutan oleh petugas medis melakukan antisipasi agar trombositnya tidak drop, kemudian mengembalikanya ke kondisi normal," lanjut Siswanto.

Sementara itu, untuk menanggulangi penyebaran penyakit Demam Berdarah (DB) di tingkat masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban akan melakukan pencegahan dengan melaksanakan program Foging di pemukiman warga. Khususnya daerah yang rawan akan serangan DB.

"Kami akan melakukan foging di beberapa titik rawan, karena bulan lalu ada yang meninggal akibat DB. Seperti di Kelurahan Sukolilo akan kami foging dan berikan sosialisasi di sana," kata Saiful Hadi, Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Tuban.

Saiful menjelaskan, meski saat ini bukan musim penghujan yang berati tidak banyak genangan air liar yang dapat digunakan nyamuk berkembang biak (Bersarang), namun daerah perkotaan dan pemukiman padat penduduk tetap cukup rawan demam berdarah.

"Daerah padat penduduk akan menjadi fokus kami melakukan foging. Jangan dikira musim kemarau tidak ada nyamuk demam berdarah, genangan kecil yang tidak kita sadari seperti fas bunga bisa saja menjadi sarang nyamuk," pungkasnya. [mut/but]

Berita Tuban - Pemerintah Kabupaten Tuban sudah siap untuk melakukan droping air bersih pada musim kemarau kali ini yang sudah mengancam sejumlah kecamatan di Kabupaten Tuban akan terjadinya kekeringan dan kekurangan air bersih, Rabu (20/08/2014).

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Husain, yang menyatakan bahwa Pemkab Tuban melalui Dinas PU, PDAM dan juga BPBD telah melakukan koordinasi untuk memberikan pelayanan air bersih kepada warga masyarakat yang kesulitan air bersih saat musim kemarau.

"Kami sudah persiapkan Dinas PU, PDAM dan BPBD sebagai penyedia air bersih. Kami sudah intruksikan kepada pihak terkait untuk selalu siap jika ada permintaan air bersih," terang Noor Nahar Husain, Wakil Bupati Tuban.

Menurut Wabup, pada setiap musim kemarau yang menjadi kebutuhan warga masyarakat adalah air untuk memasak, mandi, mencuci maupun untuk minum. Sehingga pihak Pemkab Tuban juga telah berupaya untuk mengatasi kekurangan air bersih di beberapa wilayah sejak tahun 2012 yang lalu.

"Beberapa desa yang kering, sebelumnya memang sudah mendapat air melalui pembangunan sumur bor. Itu sudah kita lakukan sejak tahun 2012 lalu," lanjutnya.

Wabup menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih di puluhan desa yang mengalami kekeringan saat kemarau dan masih belum bisa dilakukan pembuatan sumur bor, Pemkab Tuban telah memberikan bak penampoungan air (Bul) yang disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban.

"Untuk desa atau kecamatan yang memang tidak ada sumber air dan tidak bisa dilakukan pembuatan sumur bor dalam waktu dekat, sementara akan kita droping air bersih," ungkap Wabup.

Sementara itu, untuk saat ini pihak Pemerintah Kabupaten Tuban telah memetakan wilayah yang memang rawan terjadinya krisis air. Sedikitnya ada 44 desa dari tujuh kecamatan di Kabupaten Tuban yang memiliki potensi kekurangan air bersih saat musim kemarau.[mut]

Berita Tuban - Memasuki musim kemarau setelah musim penghujan, Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban menghimbau kepada masyarakat yang tinggal di Bumi Wali tersebut untuk waspada terhadap Demam Berdarah (DB). 

Pasalnya, memasuki peralihan musim dipastikan masih ada genangan air yang terjadi di sekitar pemukiman warga. Hal tersebut bisa memicu dan berpotensi berkembangnya sarang nyamuk pembawa demam berdarah, Kamis (06/08/2014).

"Memasuki peralihan musim ini, warga masyarakat harus waspada terhadap penyakit. Khususnya penyakit demam berdarah (DB) yang bisa menyerang siapapun yang tinggal di lingkungan kumuh," terang Saiful Hadi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban.

Dokter Syaiful Hadi menjelaskan, bahwa penyakit demam berdarah tersebut bisa muncul pada peralihan musim karena adanya genangan air sisa dari musim penghujan. Selain itu kawasan yang padat penduduk juga rawan dengan serangan penyakit DB tersebut.

"Biasanya tempat yang padat penduduknya rawan terkena demam berdarah. Seperti Kecamatan Tuban Kota, Semanding, Palang, Jatirogo dan Bancar, yang mana penduduknya terhitung padat," lanjutnya.

Untuk terhindar dari serangan penyakit DB yang berawal dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu warga dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga kesehatan. 

"Jika sudah ada warga yang terindikasi terserang DB supaya segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat. Tujuannya supaya cepat mendapatkan penanganan," harapnya.

Sementara itu, selain selain potensi demam bedarah ada pula penyakit lain yang patut diwaspadai pada peralihan musim kali ini, yakni seperti Influenza, Tipus dan Diare. Deretan penyakit tersebut biasanya akan muncul dan menyerang warga ketika terjadi peralihan musim penghujan menuju kemarau. [mut/but]

Berita Tuban - Sebanyak 16 orang Pekerja Seks Komersial (PSK) asal Kabupaten Tuban yang sebelumnya bekerja di lokalisasi Dolly Surabaya telah dipulangkan ke rumah masing-masing desa asalnya, Kamis (03/07/2014).

Sebelum dipulangkan ke masing-masing rumahnya, para mamtan PSK tersebut telah terlebih dahulu dilakukan tes kesehatannya. Mereka belasan orang mantan PSK itu dinyatakan sehat dan tidak ada yang terjangkit virus HIV/AIDS.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Saiful Hadi, selaku Kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban, ia menyatakan pemeriksaan terhadap 16 orang mantan PSK asal Tuban tersebut dilakukan sejak mereka telah dijemput dari Surabaya.

"Seluruhnya dari hasil pemeriksaan kita nyatakan aman dari penyakit menular. Kita masih melakukan pengawasan untuk mengetahui perkembangan kesehatannya," terang Saiful Hadi, Kepala Dinkes Tuban.

Dengan tidak adanya mantan PSK Dolly yang telah pulang kampung tersebut yang terjangkit penyakit menular tersebut tentunya tidak akan menimbulkan permasalahan di kalangan masyarakat. Sehingga mereka bisa diterima baik di kalangan masyarakat Tuban.

"Setelah diperiksa kok hasilnya negatif, ini tentunya sudah tidak ada masalah lagi. Kecuali mereka beroperasi lagi dan akhirnya baru tertular. Makanya kita masih melakukan pengawasan," lanjut Saiful Hadi.

Sementara itu, Nur Janah, selaku Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Tuban menyatakan pihaknya akan kembali melakukan pemanggilan terhadap 16 mantan PSK Dolly yang telah pulang kampung di Tuban ini untuk dilakukan pembinaan.

"Kami belum memanggil mereka, namun secepatnya kita akan melakukan pemanggilan. Kami masih melakukan pendataan, apa minat bakat mereka. Baru nanti kita berikan pelatihan," jelas Nur Janah.

Dengan pelatihan berdasarkan minat bakat dari para PSK Dolly asal Kabupaten Tuban tersebut diharapkan mampu mencegah mereka menjalani profesinya sebagai PSK. Mereka diharapkan kembali hidup dengan melakukan usaha yang dimintai di tengah-tengah masyarakat.[mut/ted]

Berita Tuban - Delapan orang Warga Desa Prambontergayang, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban terpaksa harus mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Minggu (01/06/2014). Mereka diduga keracunan makanan dari syukuran kematian dirumah Lasimin (50). Kamis malam kemarin.

Salah seorang korban keracunan, Siti Aisyah
(25) Warga setempat mengatakan, saat ia usai makan makanan (berkat,red) dari hasil syukuran 1000 hari meninggalnya salah seorang keluarga dari Lasimin. Setelah itu, pada Jumat (30/05) siang merasa mual dan pening, serta saat buang air besar mencret.

"Mulai terasa mual dan pening pada hari Jumat siang dan langsung dibawa ke dokter setempat tapi masih mual," ungkapnya.

Menurutnya, warga satu RT sekitar 20 orang yang diundang syukuran tersebut mengalami keracunan semua. Namun, yang harus mendapat perawatan hanya delapan orang. Saat itu ia makan mie yang ada diberkat. "Mungkin dari air sumur yang digunakan untuk memasak," ungkapnya sambil terbaring lemas.

Delapan orang korban itu kini masih menjalani perawatan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Bojonegoro. Dari delapan orang korban, tiga diantaranya harus menjalani rawat inap. Sedangkan lainnya hanya dilakukan rawat jalan.

Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Dr Thomas Djaja mengatakan, tiga orang yang masih dirawat inap itu karena kondisinya lemah. Sebab, lanjut dia, cairan yang ada didalam tubuh korban berkurang. "Ketiganya kekurangan cairan dalam tubuh, jika tetap dibiarkan bisa drop hingga meninggal dunia" ungkapnya.

Seperti diketahui, delapan orang yang saat ini dirawat tersebut yakni, Siti Aisyah, (25), Kasipah (50), Jaminten (60), Rizal Nanda (9), M. Afif (8), Ana (46), Niam (40), Siti Nur Wijayanti (29).[uuk/kun]

Berita Tuban - Sedikitnya 250 warga yang menderita sakit mata, seperti Katarak maupun yang lainnya yang berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Tuban ini  mengikuti pemeriksaan dan pengobatan gratis yang berlangsung di Mapolres Tuban, Jumat (23/05/2014).

Para penderita penyakit mata yang sudah banyak tak bisa melihat tersebut akan diikutkan dalam operasi Katarak gratis oleh Polres Tuban di Polda Jatim. Maka sebelum diberangkatkan untuk operasi Katarak gratis itu mereka harus diperiksa terlebih dahulu.

"Total yang ikut dari seluruh wilayah di Tuban ini ada sekitar 250 warga. Yang kita lakukan pemeriksaan ini mereka yang menderita penyakit mata," terang Kompol Agus Parjiyo, Kabag Sumda Polres Tuban.

Ratusan warga penderita gangguan pada penglihatannya tersebut dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum diikutkan dalam program operasi Katarak gratis dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara yang ke 68. Pelaksaan operasi Katarak itu akan berlangsung di Polda Jatim.

"Semua gratis, jadi mereka harus dicek terlebih dahulu apakah bisa di operasi atau tidak. Yang melakukan pengecekan dari kesehatan Polres Tuban dan juga tim dari Polda," lanjutnya.

Sebelum diberangkatkan ke Surabaya pada tanggal 28 Mei 2014 ini untuk diikutkan operasi Katarak gratis, ratusan warga yang sebagian besar sudah lanjut usia itu diperiksa mulai dari tes mata, pengecekan tensi dan juga tes gula darah. Sehingga jika memang ketiga tes tersebut memenuhi syarat mereka langsung didaftar untuk ikut operasi gratis itu.

"Pengecekan kondisi bagi para warga ini untuk mengetahui apakah bisa untuk operasi atau tidak. Nanti mereka akan kita berangkatkan dari Polres Tuban," pungkasnya. [mut/but]

Berita Tuban - Setelah diberitakan oleh sejumlah media, Abdul Malik, balita tiga tahun asal Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban yang menjalani perawatan di rumah sakit lantaran menderita gizi buruk, kini sudah mulai dapat perhatian dari berbagai kalangan.

Sejumlah kalangan komunitas masyarakat yang ada di Tuban mulai memberikan satunan terhadap balita yang kini sedang di rawat di RSUD Dr R Koesma Tuban itu. Termasuk dari komunitas wartawan yang tergabung dalam Ronggolawe Press Solidarity (RPS) dan komuntas sosial media Apa Kabar Tuban (AKT) turut berbagi untuk balita itu.

"Ini merupakan bentuk kepedualin dan rasa empati dari kami komunitas wartawan di Tuban yang bisa kami lakukan. Semoga bentuk simpati ini bisa bermanfaat bagi keluarga balita yang menderita gizi buruk ini," terang Khoirul Huda, Ketua Ronggolawe Press Solidarity, komunitas wartawan yang bertugas di wilayah Tuban.

Hingga hari ini, kondisi balita berusia tiga tahun yang hanya memiliki berat badan 8,2 kilogram tersebut masih berada di di ruang perawatan Melati III A rumah sakit umum Tuban. Setelah mendapatkan perawatan selama beberapa hari terakhir ini kondisi kesehatan Abdul Malik sudah semakin membaik.

"Setelah menjalani perawatan dengan terapi yang sudah kita lakukan, kondisi Balita ini sudah ada kemajuan perkembangan kesehatannya," terang Mundriati Utami, selaku Kepala Bidang (Kabid) Perawatan RSUD Dr R Koesma Tuban. 

Adapun tim medis dari rumah sakit sendiri mengaku masih terus melakukan penanganan secara intensif untuk penyembuhan dan pemulihan kondisi tubuh balita yang telah ditinggalkan ayahnya tersebut. Lantaran nafsu makan dari balita itu yang sulit, pihak rumah sakit terus memberikan asupan nutrisi untuk pemulihan kondisi tubunhnya.

Sementara itu, ditengah-tengah kehidupan orang tuanya yang serba kekurangan untuk kebutuhan makan sehari-hari,  Abdul Malik (3), asal Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban menderita gizi buruk. 

Akhirnya balita tersebut harus menjalani perawatan di rumah sakit sejak 24 April lalu setelah kondisinya semakin parah dan diketahui oleh sejumlah tetangganya. Awalnya, Marpi (34), ibu balita itu yang tidak punya penghasilan apa takut untuk membawa anaknya berobat lantaran tidak mempunyai biaya.(mut)

Berita Tuban - Nasib kurang beruntung dialami Abdul Malik, balita yang baru berusia 3 tahun asal Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban. Ia mengalami gizi buruk dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit selama beberapa hari terakhir ini, Jumat (28/03/2014).

Kondisi balita yang telah ditinggal meninggal dunia oleh ayahnya saat ia masih dalam kandungan ibunya itu  tubuhnya sangat lemas. Bayi tersebut belum bisa apa-apa, ia hanya terbaring diatas ranjang rumah sakit dan terus merintih dan menangis.

Menurut Marpi (34), yang merupakan ibu kandung dari Balita tersebut menyatakan bahwa kondisi anaknya tersebut sudah tidak bisa melakukan aktivitas apapun setelah umur satu tahun. Saat itu Malik menderita sakit demam hingga akhirnya kondisinya terus memburuk. "Awalnya demam biasa, tapi semakin hari semakin kurus dan tidak bisa apa-apa," terang Marpi, saat ditemui di RSUD DR R Koesma, Tuban.

Lantaran kondisi perekonomian yang sangat pas-pasan dan hanya mengandalkan bantuan dari para kerabat dan tetangganya untuk kebutuhan makan sehari-hari, Marpi tidak bisa berbuat banyak untuk merawat dan membawa anaknya untuk berobat. 

Sehingga kondisi anaknya tersebut semakin parah dan semakin kurus, bahkan saat ini berat badan dari Malik tersebut hanya sekitar 8 Kilogram. Hal tersebut sangat kurang dibandingkan dengan berat badan dari para balita yang seusianya.

"Saya tidak berani untuk berobat, karena untuk makan saja dibantu tetangga. Soalnya sudah tidak ada yang mencari uang," lanjut Marpi, sambil menunggui anaknya yang terus menangis itu.

Setelah mengetahui kondisi Abdul Malik yang terus memburuk, sejumlah warga dan juga tetangga balita itu merasa kasihan dan prihatin dengan bocah itu. Kemudian dengan menggunakan fasilitas Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) Balita tersebut dibawa ke RSUD Dr R Koesma Tuban untuk mendapatkan perawatan medis.

Balita malang tersebut masuk di rumah sakit sejak tanggal 24 Maret kemarin, ia dirawat di kamar Melati III A RSUD Tuban dengan tanpa biaya sepeserpun. Bahkan pihak rumah sakit umum Tuban mengaku menyediakan makan bagi keluarga balita itu yang terus menunggui di rumah sakit.

"Kami memperlakukannya dengan sebaik mungkin, bahkan semua kebutuhan Abdul Malik ditanggung rumah sakit. Dan untuk kesembuhan pasien kami utamakan,'' terang Siswanto, Kasubbag Hukum dan Humas RSUD Dr R Koesma Tuban. [mut/kun]